Gempita pembangunan Batam hari
ini adalah proses hampir empat dasawarsa yang sibuk. Batam tidak tumbuh alami,
ia begitu gegas tersulap dari kampung nelayan yang genuine menjadi cikal kota modern nan futuristik. Posisinya yang
terdepan di jalur tersibuk Selat Philips adalah tuah yang melekat pada tanah
Batam.
Namun mesin pembangunan yang
hanya menggunakan satu mata pisau yakni Neo Kapitalisme, menciptakan paradoks
bahkan kontradiksi. Problema sosial muncul sama banyaknya dengan ledakan populasi.
Pertumbuhan ekonomi terkatrol sangat signifikan, namun pemerataan sosial
tertatih – tatih di belakangnya. Akhirnya tercipta gap antara borjuis dan jelata dalam posisi saling menyikut. Akan
sangat mudah ditebak bahwa pemenangnya adalah borjuis kapitalis.
Dengan
kekuatan modal mereka merengkuh apa saja yang bernilai ekonomis dan ironisnya
Pemerintah Indonesia membentangkan karpet merah untuk itu. Sedangkan kaum
marjinal, penduduk lokal dan proletar yang sejatinya adalah gerigi penting
mesin – mesin indusrialisasi, terpinggirkan dan tereksploitasi sedemikan rupa.
Ade P Nasution yang saya tuduh
agak condong ke Kiri dengan sangat cerdas memamerkan kepiawaiannya lewat
tulisan – tulisan menggigit dalam buku ini. Untuk melihat dengan terang model
pembangunan Indonesia yang menganut mazhab Pasar Bebas, kelemahan – kelemahannya
langsung dapat ditelanjangi jika kita mengintipnya pada posisi agak ke sebelah
Kiri. Kendati paham Sosialisme, Marxisme, Leninisme, Komunisme dan seterusnya
mendapat stigma negatif secara berat sebelah, namun dalam dialektika keadilan
sosial , produk – produk berpikir Neoliberalisme sangat layak untuk terus
menerus digugat hingga mencapai taraf yang paling ideal.
Ade P Nasution secara
gamblang mengangkat ke permukaan mazhab
– mazhab ekonomi mulai dari Merkantilis Klasik, Neo Klasik, Marxis, Keynesian
hingga Konsep Ekonomi Syariah sebagai rujukan untuk menyigi kebijakan
pembangunan ekonomi nasional.
Penulis tidak hanya menyorot
titik lemahnya, tapi juga menawarkan solusi dengan mengajak stakeholder dan pemangku kebijakan
apapun untuk memberi laluan yang benderang kepada unit usaha mikro dan koperasi
yang memiliki semangat gotong – royong khas Indonesia. Konsep Ekonomi
Kerakyatan yang dapat disempurnakan dengan pendekatan dogmatis, adalah “jalan
damai” yang mesti ditempuh untuk menatap Indonesia sejarahtera di hari depan.
Batam adalah sebentuk miniatur
yang merefleksikan wajah Indonesia. Kita dapat membaca Indonesia dengan
menggunakan kacamata Batam. Esai – esai bernilai konstruktif dan mencerahkan
dalam buku ini, yang kemudian dilengkapi dengan sumbangan tulisan dari saya
sendiri karena kebetulan selalu ekuivalen dengan kerangka
berpikir dan gaya bahasa Sang Penulis, mudah – mudahan dapat menjadi rujukan
diskursus ekonomi Indonesia dan Batam khususnya. Selamat datang di lembar
pembuka buku bermutu ini.
CATATAN EDITOR: Muhammad Natsir Tahar

Comments
Post a Comment