Membaca Khris Gajahera adalah seperti mengamati fenomena lompatan
quantum. Sebuah lompatan besar telah terjadi dalam kisah hidupnya yang sekilas
terkesan agak tiba – tiba. Padahal untuk sampai ke titik tertinggi, ia telah
berpahit – pahit.
Khris, penulis buku ini bukan motivator retoris yang hanya pandai
membual. Tapi ia adalah pelaku sejarah yang drama hidupnya adalah inspirasi
menggugah bagi siapa saja. Seorang anak muda “tukang cuci” yang tidak layak
untuk dikenang lalu menjelma menjadi pebisnis ulung pada bidangnya. Raja
Laundry, demikian ia disebut.
Buku bertitel Laundry Cash Machine ini adalah
sisi lain dari keberanian seorang Khris. Modalnya hanya ingin menulis tanpa
catatan pengalaman menulis apapun. Atau sebenarnya ia sudah punya
talentasebagai penulis namun dipendam karena ekspektasinya adalah pebisnis.
Buku ini kemudian hadir demikian sempurna untuk ukuran awam. Tuturnya mudah
dimengerti dan padat meski terkesan ngepop dan agak jenaka.
Buku guidance untuk kalangan pebisnis laundry ini
diulas secara mengalirdan sarat dengan petunjuk teknis. Terselip kalimat –
kalimat motivasi yang provokatif untuk menguatkan minat para pebisnis laundry
agar benar – benar in charge pada bisnis menjanjikan ini.
Pramoedya Ananta Toer lewat mesin tik usang nan fenomenal itu
mengingatkan cerdik cendikia negeri ini. Katanya: seseorang boleh pandai
setinggi langit, tapi selama tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat
dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian, kata Pram. Dan Khris
Gajahera telah pun mengambil sisi penting ini untuk menyempurnakan
pencapaiannya. ***


Comments
Post a Comment